SEBENTAR lagi pemilu legislatif. Inilah pertaruhan bagi ribuan kandidat untuk memperebutkan 550 kursi parlemen. Para caleg tengah bersaing keras memperebutkan mandat dari konstituen daerah pemilihannya. Mandat dari rakyat. Mandat untuk bertindak melaksanakan apa saja aspirasi dan suara kepentingan rakyat.
Continue reading ‘Mandat’
BERJALAN mengitari perkampungan Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Ponorogo dan Magetan, nyaris tak ada pepohonan yang tidak ditindas gambar-gambar caleg. Jika bisa berbicara, mungkin pohon-pohon itu menjerit kesakitan dan berteriak: Tolong, jangan sakiti tubuhku! Paku-paku menghunjam pasti, pepohonan seperti diminta jadi tumbal untuk kepentingan para caleg. Tetapi para caleg tidak perduli. Di benak mereka hanya ada satu frasa: Menang dengan cara apa pun, tak perduli jika harus menabrak etika dan estetika.
Continue reading ‘Uzur’
SEKARANG adalah eranya contreng-mencontreng. Istilah ini mendadak ada. Tiba-tiba saja ia menjadi kata primadona, sering digunakan orang, terutama para caleg atau TS-nya. Jika Anda cari arti kata contreng di kamus, sia-sia saja. Di KBBI tak tertera sama sekali kata contreng. Padahal maksudnya tanda koreksi yang bentuknya seperti huruf V. Membubuhi tanda coretan. Orang-orang desa biasa menyebutnya centang. Kalau di kampung-kampung, orang memang tak pernah tahu tentang contreng. Sehingga ketika sosialisasi dari KPU menyebut-nyebut kata contreng, di perdesaan banyak orang yang bingung. Setelah dijelaskan dan dicontohkan cara mencontreng, semua orang desa serempak bilang: Oooo, cawang. Centang, maksudnya.
Continue reading ‘Contreng’
Recent Comments