PENYAIR Radhar Panca Dahana berhati-hati sekali memuji seniman Putu Wijaya. Di balik segala kekaguman dan respeknya, dia tak ingin para seniman lain meniru Putu. Tak perlu ada Putu-Putu lain, karena cukup hanya ada satu Putu. Sehingga, kata Radhar, yang dibutuhkan adalah magma-magma lain.
Radhar tengah ingatkan kita jangan menjadi epigon. Epigon itu tidak baik, karena lemahkan dan matikan kreativitas. Epigon adalah para pengekor, peniru, yang eksistensi dan segala hal menyangkut diri dan kiprahnya berada di bawah bayang-bayang kebesaran orang lain. Golongan epigon banyak terjadi di dunia cipta karya dan kesenian, misalnya penulis lagu, puisi, cerpen, lukisan drama, penyanyi dan band. Dulu kita mengenal band-band Jakarta seperti Bharata, Solid 80, dan Cockpit yang meniru-niru, menduplikasi habis Beatles, Chicago, dan Genesis. Ketika Sutardji Calzoum Bachri meledakkan dunia sastra Indonesia lewat puisi mantra O, Amuk, Kapak maka para penyair lain, terutama yang lebih muda, ramai-ramai mengekori gaya dan kredo Sutardji.
Begitu pula terhadap Maestro Rendra, yang tidak saja menginspirasi tetapi juga ditiru terang-terangan oleh para sastrawan dan dramawan lain. Juga tatkala jelang akhir 1970-an Ebiet G Ade dengan lagu balada, elegi dan suara khasnya kemudian ditiru banyak pengekor, sehingga muncullah “Ebiet-Ebiet” Padang, Siantar, Ciamis, Tomohon, Palopo dan seterusnya. Ada yang sekadar hiburan, iseng, fun belaka. Kadang-kadang tercium juga oleh industri, yang tujuannya tentu sudah serius dan komersial.
Betapa pun, percayalah! Originalitas itu penting dan abadi. Siapa pun pengekor pasti tak pernah di depan, haqul yakin di belakang karena hanya sebagai penjiplak, peniru, imitasi belaka. Para epigon biasanya tidak superior, tak memiliki kepercayaan diri kuat. Mereka inferior dan dekat dengan rendah diri, minder. Kebanggaannya juga semu dan palsu, karena pasti berada di bawah bayang-bayang kehebatan orang lain. Bagi mereka jati diri sendiri menjadi tidak penting, karena yang lebih berharga adalah pribadi dan semua yang lekat pada sosok yang diekorinya.
Bukan hanya dunia filosof, pengarang dan kesenian. Dunia olahraga pun tak steril dari para epigon, entah sepak bola, bola basket, tenis dan sebagainya. Contohnya gaya bermain Lentini terhadap Ruud Gullit, Yusuf Ekodono terhadap Lothar Mathaus, Zulkarnaen Lubis atau Romario terhadap Maradona, Budi Sudarsono terhadap Didier Drogba, Yustedjo Tarik terhadap John McEnroe. Biasanya memang antara bintang lokal dengan idolanya bintang nasional, internasional atau dunia. Seseorang lebih memilih dirinya menjadi sekadar pengekor dan barang tiruan dari sang bintang yang diidolakannya.
Epigon pernah tercatat menjadi kata pilihan, yang paling favorit digunakan, yakni 5 Oktober 2000. Epigon, imitator atau follower banyak digunakan tahun 1860 yang secara etimologi berasal dari bahasa Latin epigonos lalu epigignesthai yang artinya “terlahir kemudian”. Tetapi, sebelum tahun itu, dari tahun 1823 – 1835 sastrawan Jerman K L Immermann menulis novelnya berjudul Epigonen Die yang kemudian diterbitkan tahun 1836 dalam tiga jilid.
Tapi, tidak semua tiru-meniru itu pekat dengan epigonisme. Jika seorang teman atau orang-orang mengikuti disiplin kerja dan komitmen pemberantasan korupsi seperti Baharuddin Lopa atau SBY dan kerja-pintar ala Bill Gates, teman-teman bukanlah epigon. Yang disebut di atas adalah keteladanan, sesuatu yang sepatutnya ditiru, dipedomani dan dijalankan.
Ramadhan Pohan
Dimuat di Jurnal Nasional, 22 Januari 2008
0 Responses to “Epigon”