BAYANGKAN negeri ini dipenuhi mayoritas warga yang punya integritas hebat. Seluruh menteri dan jajarat birokrat di bawahnya bersih, cekatan dan akuntabel. Kapolri dan semua polisi di bawahnya jujur, idealis, bekerja profesional hanya untuk Indonesia. Seluruh warga bayar pajak. Pengacara, jaksa dan semua hakim punya integritas hebat. Para pengusaha dan konglomerat paham mana uang yang perlu dinikmati sendiri, mana yang jadi modal, mana yang untuk pajak dan untuk bantuan sosial. Seluruh wartawan idealis, bekerja hanya mengabdi penuh untuk jurnalisme pencerahan yang positif.
Saya tidak sedang mengajak Anda berutopia. Bukan pula membawa pada alam fatamorgana. Kita hanya perlu sedikit relaksasi, detoksikasi, refleksi untuk mendapatkan segala kebaikan yang perlu dilakukan. Dari situ bolehlah berharap segala yang negatif, buruk dan celaka telah enyah.
Di zaman serba cepat, godaan yang datang dan terhampar berlipat-lipat, reaksi orang beragam merengkuh kesempatan dan kepentingan. Ada yang oportunistik, main sambar apa yang terhampar, bila perlu merampok. Bagi pemuja materi, tiada hari tanpa ‘ngembat’ dan menyikat apa saja yang bisa diembat. Bila perlu, demi melicinkan usaha dan target, hipokrasi seolah dihalalkan. Alamak!
Di jagad politik, integritas masih barang langka dan karenanya luar biasa mahal. Lebih-lebih untuk posisi atau kursi, banyak yang rela bertaruh habis untuk mendapatkannya. Apakah mau didapat dengan cara menginjak kepala lawan atau cara-cara nista, seolah itu tak persoalan.Targetnya hanyalah hasil, sambil melupakan proses atau cara-cara beradab, bermoral dan beretika.
Politisikus dan pejabat nyata memang masih ada yang abai dan tidak akuntabel. Mereka lebih percaya pada pemangku interes khusus, konglomerat, pemilik kapital atau apa saja mendatangkan keuntungan instan, apakah finansial, politik, atau bahkan gengsi. Kepentingan dan rakyat kebanyakan, lower class, jadi tidak diacuhkan. Penipuan, pembohongan, desepsi, atau semua yang memperlihatkan kurangnya integritas, berserak luas. Ada kontrol dari luar, tapi masih belum cukup. Karenanya seruan moral, pada saat yang sama juga berlaku sanksi dan tindakan hukum, sepatutnya tak pernah putus. Pengawasan efektif dari media massa dan wartawan, sedikit banyak, pasti mampu mengurangi tendensi buruk penipisan integritas di kalangan pejabat, petinggi, tokoh terpandang atau siapa saja.
Pada integrity, ada kesetiaan pada prinsip-prinsip moral dan etika, juga memberi penguatan pada karakter moral dan kejujuran. Integritas atau bezúhonnost kata orang Ceko, intégrité dalam bahasa Prancis, disebut die Rechtschaffenheit di Jerman, integrità kata orang Italia, integridade bagi orang Portugal, integridad kata orang Spanyol dan doğruluk bagi orang Turki, pekat dengan soal kejujuran, mulai eksis sejak tahun 1400 dan dekat dengan kejujuran, ketulusan, kebersihan hati dan kebajikan. Ditambahkan American Heritage Dictionary, integritas kukuh pada soal-soal kode etis dan moral.
Praktik-praktik hipokrasi di mana terjadi pembedaan tajam antara pembicaraan publik dan tindakan pribadi, klaim moral dengan aksi amoral, pernyataan inklusif tapi praktiknya eksklusif, harus diakhiri. Di situ ada komitmen, konsistensi dan amanah. Ada yang bilang, what you are is not what you say you are, but what your deeds show you are. Your word must be your bond. Itulah integritas. Integritas rekat dengan sifat yang amanah, teguh dan tak ingkar pada janji, lakukan apa yang sudah diumbar mau dilakukan.
Tapi, ironi termasuk sukar dijauhkan. Dunia memang penuh hal-hal paradoks dan ironi, entah dimaksudkan supaya ramai dan ada dinamika, entahlah. Ada tokoh agama yang jago kutip ayat tapi kelakuannya nauzubillah. Ada politisi yang bidangnya menjaga kehormatan malah lakukan praktik penodaan. Ada yang bertugas menjaga dan mengawal kehormatan hakim dan hukum malah tertangkap tangan kasus penyuapan di tempat. Oh, boy!
Ramadhan Pohan
Dimuat di Jurnal Nasional, Jumat 5 Oktober 2007
Recent Comments