LAIN padang, lain ilalang. Di Negeri Paman Sam atau Barat umumnya tak ada yang ganjil jika orang terbuka menyatakan sikap politiknya. Tapi, mereka akan cemberut dan terperangah jika ditanya tentang status pernikahan. Bagi mereka, soal single atau married, itu urusan pribadi dan bukan konsumsi publik. Sedangkan di Indonesia, malu-malu alias tertutup bicara afiliasi politik, tapi enteng-enteng saja kalau bicara atau bertanya tentang umur dan status perkawinan dirinya maupun juga orang lain. Di kita, justru politik yang jadi konsumsi pribadi dan serba rahasia.
Di Amrik, pandangan politik langsung digolongkan dalam tiga kategori: liberal, moderat, konservatif. Dalam konteks pilpres dan parpol, liberal itu acap dihubungkan dengan Partai Demokrat, sedangkan konservatif pada Partai Republikan. Jika Liberal adalah Kiri, dan Konservatif adalah Kanan, maka moderat biasanya selalu di antara keduanya, yakni keluar dari garis ekstrem liberal dan konservatif. Kalau di Indonesia, pembagian Kiri Kanan tersebut berbeda lagi nuansanya: kiri adalah komunis dan kanan adalah ekstremis agama.
Politik itu kerap warna-warni, lebih-lebih di Amerika, India, Indonesia, dan negeri-negeri besar demokratis lainnya. Pembagian kanan, kiri, tengah juga variatif, lincah. Di Amrik sana, Demokrat dan Liberal kadang-kadang masih harus dibagi lagi dalam kiri, tengah dan kanan. Jadi ada liberal-kiri, liberal-kanan dan liberal moderat. Moderat pun seharusnya bisa dipecah lagi menjadi moderat-kiri, moderat-kanan, moderat-moderat.
Secara umum, kaum moderat adalah mereka yang menolak ekstremitas kiri dan kanan, juga menolak absolutisme apa pun. Pilihannya selalu di tengah, tidak di kiri dan juga tidak di kanan; tak menempatkan diri di kelompok atas, juga tak di bawah.
Moderat, pandangan tengah, menurut Online Etymology Dictionary, berasal dari bahasa Latin, moderatus, dan sebagai kata kerja muncul tahun 1432, dalam pengertian, “mengurangi keberlebihan”. Moderat dalam pengertian mengurangi, menurunkan sesuatu jadi kurang ekstrem, moderare dalam bahasa Italia, abrandar kata orang Portugis, dalam adjective ia bermakna “tidak ekstrem” seperti dalam konteks harga atau opini, moderado kata orang Brazil, mattlig dalam bahasa Swedia, moderat kata orang di Bukares, atau di Turki diistilahkan sebagai aşırıya kaçmayan.
Untuk orang yang secara politik berpandangan tidak ekstrem seperti di atas, di Ceko disebut umírněnec, orang Finlandia menyebutnya maltillinen, atau ılımlı kimse dalam bahasa Turki, dan di Prancis diistilahkan modéré. Moderat menurut Roget’s New MillenniumTM Thesaurus bersinonim pula dengan balans, hati-hati, kompromi, pertimbangan, imparsial, netral, jalan tengah, nonpartisasn, toleran dan damai.
Secara politik, seorang yang moderat itu merupakan individu yang mengambil peran, posisi dan ekspresi tengah di antara dua poin pandangan. Posisinya diklasifikasi sebagai “di tengah-tengah” antara mereka yang sayap-kiri atau sosialis dan right-wing atau konservatif. Dalam politik pula, mereka yang di tengah inilah yang banyak menjadi pemilih yang berpindah-pindah atau swing voters. Ini disebabkan tidak adanya kecondongan yang fanatik dari kaum moderat, di mana sewaktu-waktu ia begitu mudah bergeser. Dalam satu masa agak ke kiri, namun pada masa lain malah justru ke kanan.
Dalam konteks agama, seseorang disebut moderat tatkala mengambil sikap dan posisi “intermediate” antara yang sekuler atau liberal dengan yang konservatif. Jika golongan konservatif mengambil posisi doktrinal yang keras, sedangkan kaum liberal dan moderat condong lunak di segala sisi: Ambil aspek tertentu konservatif namun tidak tegas-tegas amat dalam mengacu doktrin agama. Dengan kalimat lain garis ortodoks, puritan dan fundamentalisme tak ada pada kaum moderat, sebagaimana tidak juga harus berarti antiagama.
Ramadhan Pohan
Dimuat di Jurnal Nasional, Jumat 14 September 2007
Recent Comments