Archive for March, 2008

Moderat

LAIN padang, lain ilalang. Di Negeri Paman Sam atau Barat umumnya tak ada yang ganjil jika orang terbuka menyatakan sikap politiknya. Tapi, mereka akan cemberut dan terperangah jika ditanya tentang status pernikahan. Bagi mereka, soal single atau married, itu urusan pribadi dan bukan konsumsi publik. Sedangkan di Indonesia, malu-malu alias tertutup bicara afiliasi politik, tapi enteng-enteng saja kalau bicara atau bertanya tentang umur dan status perkawinan dirinya maupun juga orang lain. Di kita, justru politik yang jadi konsumsi pribadi dan serba rahasia.

Di Amrik, pandangan politik langsung digolongkan dalam tiga kategori: liberal, moderat, konservatif. Dalam konteks pilpres dan parpol, liberal itu acap dihubungkan dengan Partai Demokrat, sedangkan konservatif pada Partai Republikan. Jika Liberal adalah Kiri, dan Konservatif adalah Kanan, maka moderat biasanya selalu di antara keduanya, yakni keluar dari garis ekstrem liberal dan konservatif. Kalau di Indonesia, pembagian Kiri Kanan tersebut berbeda lagi nuansanya: kiri adalah komunis dan kanan adalah ekstremis agama.

Politik itu kerap warna-warni, lebih-lebih di Amerika, India, Indonesia, dan negeri-negeri besar demokratis lainnya. Pembagian kanan, kiri, tengah juga variatif, lincah. Di Amrik sana, Demokrat dan Liberal kadang-kadang masih harus dibagi lagi dalam kiri, tengah dan kanan. Jadi ada liberal-kiri, liberal-kanan dan liberal moderat. Moderat pun seharusnya bisa dipecah lagi menjadi moderat-kiri, moderat-kanan, moderat-moderat.

Secara umum, kaum moderat adalah mereka yang menolak ekstremitas kiri dan kanan, juga menolak absolutisme apa pun. Pilihannya selalu di tengah, tidak di kiri dan juga tidak di kanan; tak menempatkan diri di kelompok atas, juga tak di bawah.

Moderat, pandangan tengah, menurut Online Etymology Dictionary, berasal dari bahasa Latin, moderatus, dan sebagai kata kerja muncul tahun 1432, dalam pengertian, “mengurangi keberlebihan”. Moderat dalam pengertian mengurangi, menurunkan sesuatu jadi kurang ekstrem, moderare dalam bahasa Italia, abrandar kata orang Portugis, dalam adjective ia bermakna “tidak ekstrem” seperti dalam konteks harga atau opini, moderado kata orang Brazil, mattlig dalam bahasa Swedia, moderat kata orang di Bukares, atau di Turki diistilahkan sebagai aşırıya kaçmayan.

Untuk orang yang secara politik berpandangan tidak ekstrem seperti di atas, di Ceko disebut umírněnec, orang Finlandia menyebutnya maltillinen, atau ılımlı kimse dalam bahasa Turki, dan di Prancis diistilahkan modéré. Moderat menurut Roget’s New MillenniumTM Thesaurus bersinonim pula dengan balans, hati-hati, kompromi, pertimbangan, imparsial, netral, jalan tengah, nonpartisasn, toleran dan damai.

Secara politik, seorang yang moderat itu merupakan individu yang mengambil peran, posisi dan ekspresi tengah di antara dua poin pandangan. Posisinya diklasifikasi sebagai “di tengah-tengah” antara mereka yang sayap-kiri atau sosialis dan right-wing atau konservatif. Dalam politik pula, mereka yang di tengah inilah yang banyak menjadi pemilih yang berpindah-pindah atau swing voters. Ini disebabkan tidak adanya kecondongan yang fanatik dari kaum moderat, di mana sewaktu-waktu ia begitu mudah bergeser. Dalam satu masa agak ke kiri, namun pada masa lain malah justru ke kanan.

Dalam konteks agama, seseorang disebut moderat tatkala mengambil sikap dan posisi “intermediate” antara yang sekuler atau liberal dengan yang konservatif. Jika golongan konservatif mengambil posisi doktrinal yang keras, sedangkan kaum liberal dan moderat condong lunak di segala sisi: Ambil aspek tertentu konservatif namun tidak tegas-tegas amat dalam mengacu doktrin agama. Dengan kalimat lain garis ortodoks, puritan dan fundamentalisme tak ada pada kaum moderat, sebagaimana tidak juga harus berarti antiagama.

Ramadhan Pohan

Dimuat di Jurnal Nasional, Jumat 14 September 2007

 

9/11

HARI ini, pagi hari enam tahun lalu, tak ada yang istimewa di New York City dan Washington, DC. Sampai kemudian pukul 08.45 terjadi sesuatu menggegerkan, ada sebuah pesawat secara sengaja menubruk Gedung WTC. Tak lama berselang sebuah pesawat lagi melakukan tindakan serupa. Menara kembar yang tingginya berkesan mencengkram langit, itu sontak dua-duanya roboh.

Ketika beberapa teve Amrik mulai mendadak Breaking News, banyak orang yang masih belum ‘ngeh’: America under Attack. Saya ingat pagi itu sendirian di apartemen di Washington, DC, dan ketika keluar rumah, segalanya masih normal. Saya coba telepon ke beberapa teman sekitar, tak ada nada kehebohan. Beberapa teve dan liputannya pun belum memperlihatkan ada sesuatu yang dahsyat tengah berlangsung.

Selang sejam kemudian, Pentagon ikut dihajar, kali ini oleh sebuah ‘pesawat harakiri’ lain. Saya sengaja pakai istilah itu, demi mencari kata yang pas untuk kalimat panjang tentang pesawat terbang yang secara sengaja dikemudikan atau dikendalikan atau di bawah tekanan orang tertentu supaya menabrakkan diri ke gedung sasaran.

Tengah hari, saya ditelepon pihak daycare, sekolah play group, meminta supaya putra saya segera dijemput karena faktor emergency serangan terhadap New York City dan Washington, DC. Was-was mulai menjalari tubuh dan pikiran ini, sehingga sampai pada satu titik panik, saya tak bisa lagi melakukan komunikasi telephone interlokal ke New York City apalagi internasional ke Indonesia. Satu-satunya alat komunikasi tersisa, saluran internet, juga termehek-mehek. Saya dan siapapun di Ibukota AS ketika itu amatlah frustrasi. Bagaimana mungkin Ibu Kota paling berpengaruh di dunia mendadak seperti paria, kota terbelakang dan terisolir dari dunia luar.

Karena anak saya tidak ada yang menjaga dan istri saya pun masih di kantornya maka saya bawalah anak yang masih batita itu keliling kota, memastikan situasi. Dengan menggandeng tangan anak, saya turun dan berbicara dengan polisi dan orang-orang. Kesibukan belum begitu terasa, kecuali di beberapa tempat polisi melakukan pemblokiran jalan. Rumah dan kantor Amrik-1, Gedung Putih, aman. Begitu pula area Independence Avenue dan Constitution Avenue dan kawasan Capitol Hill, gedung parlemen, kongreswan dan senator mengantor, barikade polisi mulai diturunkan. Tetapi belum terlalu ketat, contohnya saya masih bisa hilir-mudik, inang-ining melewati atau berbicara dengan mereka. Mobil saya pun masih bisa melewati Pentagon yang sebagian gedungnya baru ditubrukkan pesawat itu.

Apa yang terjadi? America Under Attack, tapi oleh siapa dan bagaimana mungkin? Begitulah sekelumit penggalan kisah 11 September 2001 yang saya alami. Tanggal 11 September 2001, orang Amrik lebih suka menyebut 9/11, Nine One-One, 19 teroris terbagi dalam 4 team membajak empat pesawat: Dua di antaranya ditabrakkan ke WTC; satu ke Pentagon; dan sebuah lagi digagalkan penumpang namun pesawatnya hancur di Pennsylvania. Seluruh pembajak dan penumpang empat pesawat komersial di atas tewas. Total korban nyawa 9/11 adalah lebih dari 3500 jiwa, yang paling banyak adalah mereka yang tertimpa pesawat dan tengah berada di WTC dan Pentagon. Korbannya ada orang Eropa, India, Pakistan, Afrika, Indonesia dan sebagainya. Agama para korban juga beragam, dari Yahudi, Nasrani, Hindu, dan Islam.

Peristiwa 9/11 sudah mengungkap banyak hal, tapi menyisakan pelbagai misteri. Sedikit bukti tersisa, para pembajak yang seluruhnya orang Timur Tengah, bermodalkan hanya pisau lipat, cutter, ideology dan klaim bahwa mereka punya bom.

Kebetulan saya masih bertugas di Amrik ketika itu, oleh beberapa pakar dan teman-teman disebut sebagai wartawan media cetak satu-satunya Indonesia yang meliput kejadian 9/11, tak merasa itu sebagai privelese atau tanda istimewa. Jangankan saya, para spesialis dan pejabat Paman Sam sendiri memiliki ingatan terserak tentang 9/11. Tak satu pun yang bisa ketahui detail apa yang sesungguhnya terjadi pada 9/11.

Ramadhan Pohan

Dimuat di Jurnal Nasional, Selasa 11 September 2007

Siem

BENTENG Vastenburg, Solo, Minggu 2 September. Sekitar 5 ribu penonton tertib duduk di kursi menyaksikan pertunjukan budaya di atas panggung. Solo, kota tua bersejarah panjang, tengah menggelar Solo International Ethnic Music (SIEM). Di situ ada festival musik dan seni, workshop, juga konferensi. Pesertanya macam-macam, dari pemusik tradisi pelbagai provinsi Nusantara hingga seniman manca negara. Dari Aceh hingga Papua. Dari negeri tua ke budayaan Yunani hingga Irak yang baru merdeka dari tiran Saddam Hussein namun kini malah dikontrol mob, anarkis pasca invasi George W Bush.

SIEM tegaskan seni dan musik sebagai bahasa universal, itu diamini Walikota Surakarta Joko Widodo dan Ketum SIEM Bambang Sutejo. Karena itu Dubes Yunani, para bule dan turis Asia Timur dan ribuan penonton bisa sama-sama hanyut menyaksikan magis teatrikal, senandung, rintihan menyayat ataupun getar perlawanan dan harmoni yg terucap lewat alat musik tradisi lokal Sulawesi Tengah dibawakan Komunitas Seni Tadulako. Manusia dari budaya apa saja dan golongan usia mana pun mudah berinteraksi dan bekomunikasi melalui medium seni dan budaya. Bukan hanya etnik Kaili yang tahu dan karenanya bisa terlibat saat budaya lokalnya mengemuka. Ketika mereka menyeruakkan ungkapan syukur melalui prosesi bunyi dan benda2 atau prinsip Tonda Talusi sbg harmoni antara manusia, alam dan perilaku– seperti mereka papar dalam buku panduannya– semua akur. Tak perlu ada pembantahan di situ. Juga tak harus ada penyeragaman, pemaknaan yang sama terhadap realitas panggung. Seperti kata Sawung Jabo dan kelompok Yayi Kakang nya katakan sebelum menyodorkan komposisi musik bertajuk “Liwang Liwung” dari instrumen gamelan, perkusi, band Combo, “Kami tak perlu prolog, narasi untuk membantu Anda menginterpretasi komposisi ini. Silahkan Anda menafsir, menilai sendiri.”

Jabo benar. Jagad seni dan budaya bukanlah tata aturan atau protokoler layaknya dunia diplomasi, Gedung DPR Senayan dan kantor menteri atau CEO perusahaan yg penuh ketertiban, kepatuhan, keseragaman mematok apa saja dinamakan sukses, keuntungan, stabilitas, harmoni. Seni dan musik sangat lekat dengan budaya demokrasi, tanpa perlu teriakan demo, adu kuat voting dalam setiap pengambilan keputusan ataupun irama yang dilontarkan. Ribuan penonton SIEM pun tak perlu kritikus, buku pintar, moderator dan interpretor saat menikmati harmoni dan interaksi orang-orang di atas panggung. Interaksi dan komunikasi meloncat keluar panggung, berseliweran di benak penonton yang kemudian memberi input saat mereka pulang dan keesokan hari bekerja dan berinteraksi sosial atau bahkan memberi pengaruh pada putusan dan tindakan ekonomi, politik menyentuh kepentingan luas masyarakat.

Musik adalah universal dan tak monolitik apalagi naif. Karenanya mereka yg kulit putih, berwajah gelap, bisa berbaur bersama dgn mereka yang bermata sipit ataupun berambut keriting. Anak-anak maupun orangtua sama-sama membinarkan mata, serempak menancapkan sinyal ACC kepada Kamal al-Bayati, koreografer dan penari Irak yang mengekspresikan musik dan tariannya sebagai penolakan atas kekerasan sekaligus kerinduannya mendalam menanti perdamaian abadi di Baghdad.

SIEM adalah ekspresi budaya, perekat humanisme perdamaian, dan cita-cita bersama. Keesokan harinya, tepatnya pukul 7 pagi, saya menjejakkan kaki kembali di Bentengt Vastenburg. Tak ada siapa pun di atas panggung. Kursi-kursi terbiar melompong. Di sekitar dua pohon tua di tengah lapangan, menyusur jalan keluar benteng, ada ribuan jejak kaki yang berharap SIEM kedua tahun depan masih tetap ada.

Ramadhan Pohan

Dimuat di Jurnal Nasional, 7 September 2007

  

Next Page »


Recent Comments

joey on All moments are precious
mr.bambang on Kamitua
kukuh suharwiyono on Israel
harto on Kopi-Kopi
Senda Irawan on Dikotomi

 

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31