PADA saatnya cukup adalah cukup. Usah ditambah-tambah lagi. Jangan ada cemooh dan fitnah yang berulang. Jangan pernah lagi ada dusta di antara kita. Enough is enough. Terbuka. Apa adanya.Tidak baik meminta lebih lagi dari apa yang sudah diberikan orang lain. Lewat dari ambang batas, itu namanya keterlaluan. Kelewatan. Overdosis. Tamak. Egois. Seseorang atau orang-orang yang menabrak garis, melanggar kewajaran pada akhirnya harus distop. Jika tidak maka ia bakal menulari virus ke mana-mana. Meracuni jiwa dan pikiran orang-orang yang tak bersalah dan tak tahu apa-apa. Kemungkaran pun menjalar.
Maka kesabaran ada batasnya. Tak ada pengecualian di situ, mau politisi, pemimpin, kawulo, pengusaha, penyair atau sufi sekalipun. Manusia hidup dalam realita, bukan fiksi. Orang-orang harus sepakati dulu itu sebelum berdebat panjang.
Seperti halnya kejahatan dan kenegatipan, harus ada batas yang bisa ditolerir sebelum tindakan represif diambil. Ada proses. Ada titik tanda akhir. Diberi hati, minta jantung. Sehingga, sebelum mereka meminta kepala kita, warning perlu ada: Hey, Anda sudah melewati batas.
Mungkin ini yang dialami SBY ketika akhirnya melaporkan politisi uring-uringan pasca lengser-jabatan, yakni Zaenal Maarif. Dulu-dulu, jenis dan konten fitnah sejenis didiamkan SBY. Tapi, enough is enough, kebohongan harus stop. Belum lagi publik, yang ketika disebarkan kabar bohong oleh politisi dan media, seolah menerima begitu saja: Tak ada bantahan, berarti benar. Barangkali itu sisi lain di luar pembelajaran warga negara patuh hukum yang sedang diperlihatkan SBY. Tambah lagi: SBY juga manusia biasa.
Cukup adalah cukup. Ia sudah menjadi frasa umum dan dipakai sejak lama, oleh banyak kalangan berbeda. Bagi Sara Blanken, sejak 1992 lalu, frasa tadi jadi ikon dan nama aosisasi gerakan menghadapi serbuan predator seks di internet yang memangsa anak-anak dan keluarga. Lebih 90 persen serangan seks di internet menarget anak-anak dan remaja. Angka itu sudah kebangetan, harus dikurangi, diperangi. Kini presidennya, Donna Rice Hughes sudah menghimpun kekuatan multi etnis, ras dan agama bersama belasan Fisrt Ladies (istri Gubernur) negara-negara bagian AS, komit untuk melindungi anak-anak.
Di tempat lain, frasa tadi menjadi nama gerakan antikekerasan, dimaksudkan mendukung mereka yang korban kriminal dan kekerasan. Enough is enough, kekerasan dan intensitas korban makin keterlaluan maka perlu keterlibatan peran setiap orang.
Di Negeri Kanguru, ia merupakan program pendidikan untuk mengatasi masalah disebabkan alkohol. Sudah terlalu banyak kejahatan, kekerasan, termasuk yang terjadi di rumah-tangga terjadi setelah pelakunya menenggak minuman keras. Karena itu, upaya yang dianggap fair adalah mengurangi dampak buruknya.
Dulu Bill Clinton nyaris dimakzulkan Senat gara-gara berbohong pernah melakukan hubungan seks dengan Monica Lewinsky. Publik AS yang tak sabar akhirnya marah dan minta Clinton jujur saja: Enough is enough. Belakangan Clinton mengaku berzina dan mendustai Hillary. Tapi serangan Republikan bertubi-tubi dan Clinton tak tahu apa lagi yang diincar lawan politiknya, hingga pemimpin yang berlagak Don Juan ini pun balik murka: Enough is enough.
Cukup sudah sandiwara dan kalimat gombalmu, kata para perempuan korban lelaki egois. Benar, rasa cinta dan airmata bukan lah semata hamparan laut lepas, melainkan sangat berbatas. Barangkali itu yang membuat Barbra Sreisand dan Donna Summer dulu memilih lagu Paul Jabara dan Bruce Roberts, No More Tears alias Enough is Enough.
Ramadhan Pohan
Dimuat di Jurnal Nasional, Jumat 3 Agustus 2007
0 Responses to “STOP”