DEMOKRASI NO.1

Indonesia adalah negeri demokrasi terbesar nomor satu di dunia. Saya punya argumentasinya. Ketika masih berdomisili di Washington, D.C., Indonesia kerap dipuji sebagai demokrasi terbesar ketiga. Para petinggi dan tokoh di Administrasi maupun Kongres dan Senat acap mengulang sebutan buat Indonesia tadi. Para menteri atau petinggi terutama di Pentagon dan DoS, Deplunya AS, tidak ragu memberi pujian Indonesia demokrasi terbesar nomor 3 di dunia.

Saya ingat adalah Paul D Wolfowitz tokoh pertama AS yang kali pertama mengapresiasi Indonesia sebagai negara demokrasi paling besar setelah AS dan India. Wolfie, sapan karibnya, mengungkap itu di mana-mana.

Nama Indonesia naik daun dalam konteks demokrasi karena sukses Pemilu 1999. Dalam pesta demokrasi untuk memilih Parlemen baru itu, 48 parpol yang ikut, berlangsung aman dan tanpa keributan. Wolfie bangga dan terharu karena terbukti jelas betapa kompatibelnya demokrasi dan Islam. Tak dipungkiri ada juga orang menilai antusiasme makin meneguhkan Wolfie supaya AS menjadi sponsor aktif demokrasi di negeri-negeri Islam, utamanya Timur Tengah.

Lantas Pemilu Parlemen sekaligus Pilpres 2004 makin mengibarkan kedigjayaan demokrasi Indonesia. Inilah kali pertama bangsa kita memilih secara langsung Presiden: One man, one vote. Mau professor atau penjual martabak, pejabat atau pengangguran, suaranya sama-sama bernilai satu. Pilpres berjalan lancar, aman dan tanpa kerusuhan. Tidak pula sebutir peluru pun keluar dari pucuk senjata api.

Sebelum pilpres, ada banyak keraguan. Takut kerusuhan meledak. Kuatir perang saudara. Sebagian elite politik ragu kesiapan rakyat berdemokrasi. Asumsi itu kuat dan seperti gelombang kampanye itu sendiri. Namun terbukti ia tetap tak sekuat mentalitas dan kesiapan rakyat sendiri. Masyarakat Indonesia, sebawah apapun, tak masalah dengan demokrasi. Ketika jagonya kalah Pilpres, para pendukung ikhlas. Ibaratnya permainan dan pertandingan olah raga, kalah atau menang itu biasa. Kalah bukan berarti kiamat dan akhir dari segalanya. Kandidat yang tumbang pun, legowo. Tak perlu mencari kambing-hitam. Tahun sekarang gagal, periode mendatang bisa dicoba lagi. Itulah pelajaran demokrasi. Preseden indah. Ia laksana tuntunan. Pedoman.

Wolfie mungkin perlu mengoreksi urutan besar demokrasinya. Menurut saya, Indonesia jelas lebih baik dan lebih besar dibandingkan India. Di negeri itu demokrasi kerap berjalan rusuh, peristiwa kekerasan di mana-mana. Kerusuhan komunal acap terjadi, entah mau ada pemilu atau tidak. Kendati dari segi jumlah penduduk India jelas lebih besar dibandingkan Indonesia, namun demokrasi India kalah aman. Demokrasi selayaknya berjalan tanpa kekerasan, tanpa kobaran api. Tanpa mengorbankan nyawa rakyat atau siapapun. Jadi, pantas jika demokrasi Indonesia persis di atas India.

Dalam konteks Pilpres, demokrasi Indonesia bahkan seharusnya di atas Amerika. Di Negeri Paman Sam, presiden dan wapres dipilih melalui Electoral College. Suara pemilih tidak langsung ke pundi-pundi suara kandidat. Kandidat yang memiliki jumlah suara terbesar electoral votes, itulah yang menang. Pada Pemilu 2000 Al Gore memiliki suara terbanyak, namun suaranya di Electoral College lebih kecil dibandingkan Bush. Yang jadi Presiden, ya Bush.

Karena itu, Indonesia jelas lebih maju dibandingkan AS. Berarti pula demokrasi Indonesia lebih top dibandingkan AS. Karena lebih besar dari pada AS maka demokrasi Indonesia teratas. Indonesia adalah negeri terbesar demokrasi di dunia. Maka, ketika beberapa hari lalu petinggi asing mengatakan demokrasi Indonesia terbesar ketiga setelah AS dan India, jelas keliru.

Ramadhan Pohan

Dimuat di Jurnal Nasional, Jumat 10 Agustus 2007

0 Responses to “DEMOKRASI NO.1”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




Recent Comments

joey on All moments are precious
mr.bambang on Kamitua
kukuh suharwiyono on Israel
harto on Kopi-Kopi
Senda Irawan on Dikotomi

 

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930