Al Amin Nasution namanya. Orang yang dipercaya menjadi wakil rakyat. Pembela aspirasi dan kepentingan rakyat. Tapi Al Amin yang anggota DPR, petinggi PPP, pekan lalu ditangkap KPK atas dugaan suap dan korupsi senilai Rp 1,7 miliar. Dia wakil rakyat diringkus di hotel Ritz Carlton bersama beberapa orang lainnya, termasuk dua perempuan yang bukan muhrimnya. Diungkapkan KPK, penangkapan terkait kasus pengalihan status hutan lindung menjadi hutan tanaman industri di Pulau Bintan.
Archive for April 23rd, 2008
PADA satu siang di kompleks perumahan DPR, Kalibata, Jakarta. Sehabis Jumatan dan makan siang, saya bertandang ke rumah seorang teman, anggota DPR. Saya mengenalnya sudah lebih dua dekade. Dulu ia termasuk mahasiswa yang pandai berdebat, kutu buku, dan lihai beretorika. Ia kritis dan tak pernah takut membicarakan apa saja. Kerap pantang mundur untuk sesuatu yang diyakininya benar. Ia tak peduli bila pendapatnya dipandang aneh dan ekstrem. Tatkala Soeharto dan Orde Baru begitu jumawa dan mesin politiknya menghunjam ke mana-mana, termasuk ke kampus, pria murah senyum ini tak berarti terkunci. Ia punya seni khusus berpolitik.
DARI mana ekstremisme lahir? Masyarakat seperti apa yang menumbuhkan dan mematangkannya? Orang fanatikus, naïf, fundamentalis seperti Geert Wilder terlahir dari lingkungan kultur Eropa. Katanya, itulah benua kebebasan. Padahal, ia ambivalen. Penuh mitos dan terampil menyembunyikan borok wajah dan karakter bangsanya.
Recent Comments