SEORANG kolega bercerita pengalamannya, ia miris karena lemahnya kesadaran penghematan di negeri ini. Hampir setiap hari selama sejam ia jalan pagi mengitari trotoar Lapangan Banteng. Setiap hari dalam perjalanannya atau bahkan ketika olahraga pagi, ia lihat lampu menyala di gedung-gedung di area itu. Hari masih gelap, lewati subuh. Apakah pejabat, staf dan karyawan atau instansi itu sudah memulai aktivitas sepagi itu? Ataukah mereka bekerja lembur sampai larut hingga belum pulang ke rumah masing-masing?
Jawabannya: Tidak. Di situ sama sekali tidak berhubungan dengan karakter pekerja keras. Tak ada konteks etos kerja yang meluap-luap. Sebab setiap hari mereka sudah meninggalkan pekerjaan sejak sebelum petang. Ketika mereka pulang, lampu-lampu tidak dimatikan, dibiarkan menyala seterang-terangnya. Kita tidak tahu apakah AC yang ada di gedung-gedung perkantoran itu juga dibiarkan menyala atau sudah dimatikan. Pertanyaannya, jika hal yang kasat mata dan jelas-tegas saja mereka sudah tak peduli, konon pula yang tak terlihat mata.
Miris dan mengganggu kesadaran hemat energi yang diyakininya, kolega tersebut pun menemui Satpam. Ia meminta petugas itu untuk mematikan lampu-lampu di semua ruangan yang sama sekali tidak ada aktivitas apa pun di dalamnya. Persoalan beres, pada hari itu.
Pertanyaannya, bagaimana dengan esok atau hari-hari selanjutnya? Apakah Satpam gedung tersebut bersedia sukarela melakukan pekerjaan yang “diorder” orang luar dan sama sekali bukan pejabat di gedung-gedung itu? Pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana dengan gedung-gedung lain di seluruh DKI Jakarta? Atau Jabodetabek? Provinsi dan kota se-Jawa, se-Kalimantan, se-Sumatera, se-Sulawesi? Se-Indonesia?
Seorang rekan lain, angkat bicara. Ia beride supaya direkrut saja orang yang kerjanya menyalakan lampu pada pagi hari sesaat aktivitas kerja dimulai dan memadamkan lampu dan AC jelang petang tatkala aktivitas kerja di kantor itu bereakhir. Biaya menggaji seorang pekerja khusus itu dipastikan jauh lebih murah, lebih hemat, lebih efisien dan pasti ramah lingkungan dibandingkan dengan kerugian pengeluaran dan penghamburan energi listrik yang terjadi.
Jauh sebelum gonjang-ganjing krisis energi dunia dan lonjakan harga minyak dunia yang gila-gilaan sekarang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah ingatkan soal penghematan. Tak lama setelah menjadi Presiden, ia keluarkan pula instruksi penghematan itu. Bukan itu saja, ia pun memberi contoh langsung dan konkret di kantor kepresidenan dan Istana. Ingat, dalam soal penghematan, SBY dan Istana sejauh ini sudah melakukan efisiensi dan penghematan biaya beratus-ratus miliar rupiah.
Tetapi, begitulah. Teladan seorang pemimpin puncak tetap masih kurang di Republik ini. Rupanya harus lebih massif. Setelah Presiden, teladan juga harus diikuti dan dilakukan semua pejabat dan petinggi di bawahnya, termasuk menteri-meteri bersama semua departemen yang ada. Di daerah-daerah juga begitu, gubernur, wali kota, dan bupati serta semua pejabat atau kantor-kantor yang ada, melakukan gerakan hemat energi. Matikan lampu ketika tidak ada aktivitas. Gunakan energi, listrik, AC dan sebagainya sesuai kebutuhan
Bukan hanya pejabat atau instansi pemerintah saja yang harus berhemat energi, melainkan juga swasta. Gedung-gedung mal, perkantoran swasta harus lakukan hemat energi juga. Termasuk rumah-rumah tangga di seantero Indonesia, menggunakan listrik semata-mata harus sesuai keperluan. Haram berboros-boros.
Setelah semua level pemimpin konkret berhemat energi dan semua pelaku usaha, swasta dan rumah-rumah tangga ikut dalam kampanye hidup hemat energi, itu artinya soliditas bangsa ini terbukti kokoh. Sekarang saatnya.
Ramadhan Pohan
Dimuat di Jurnal Nasional, Selasa 6 Mei 2008
0 Responses to “Hemat”