DARI sisi tertentu dunia ini terbagi menjadi dua golongan orang saja: yang matang dan yang innocent. Selebihnya adalah sekadar pengembangan, turunan, varian, atau boleh dibilang sebagai improvisasi belaka.
Pelaku bisnis dan mereka yang masuk dunia profesional, kerap dihadapkan pada tantangan peran. Entah pengacara, dokter, wartawan, serdadu, dosen, instruktur, pembuat martabak, atau pengemudi angkutan. Mereka yang belum berpengalaman pastilah kerap dijuluki masih hijau, anak bawang, seumur jagung, ingusan, dan seterusnya. Sedangkan yang sudah berpengalaman kerap disebut matang, jam terbang tinggi, kenyang merasakan asam-garam atau kalau mau agak sarkastis, karatan, bulukan.
Dalam dunia politik pun begitu. Sebagian tipikal awam, sebagian lagi matang. Politisi disebut kawakan, matang dan berpengalaman hebat, senior, di mana pemikiran dan tindakannya benar-benar mencerminkan laku negarawan. Ia bisa suci laksana sufi. Seperti laksamana, ia digdaya dan gagah memimpin pertempuran laut. Ia adalah singa podium, macan dalam bargaining. Perkataan dan sikap putusan yang dipilih dan dikeluarkannya kerap melalui pertimbangan matang, panjang, dan mendalam. Ia juga piawai, pintar memainkan irama sesuai keadaan, kapan bernada gambus, kapan bertempo cepat, dan terkadang mengambil trend lama klasik. Mengenai lancung atau dusta nya, itu lain lagi, itu soal interest dan terkait kearifan.
Inncocent bisa dianggap polos, tanpa-dosa, tak banyak tahu ‘dunia hitam’. Jika terjadi kesalahan, itu tak bisa ditimpakan padanya, karena innocent nya itu. Mereka yang innocent, tak berdosa, atau orang Belanda bilang onnozel, di Jerman disebut einfältig, dan innocente dalam bahasa Italia, bebas dari beban kekeliruan moral. Ia murni, bersih, tanpa noda.
Demokrasi acap menjadi panggung penting bagi para politisi matang maupun yang sedang mencari pengalaman dan masih hijau, innocent. Coba tengok pentas debat kandidat Demokrat untuk pilpres di AS 2008. Ada 8 kandidat bersaing merebut tiket Demokrat, tujuh matang dan veteran, satunya lagi new comer. Dari pertarungan debat kandidat yang sudah 4 kali berlangsung dan nama yang paling dijagokan dalam polling dan popularitas media massa: Hillary Clinton dan Barack Obama. Yang disebut pertama adalah senator New York masuki periode kedua, pernah 8 tahun di Gedung Putih sebagai isteri Presiden Bill Clinton, berpengalaman panjang dalam politik domestik Amrik. Yang satu lagi adalah politisi yang baru naik daun ketika diberi kesempatan berpidato meramaikan Konvensi Partai Demokrat tiga tahun lalu.
Dalam debat antar kandidat di Charleston, Carolina Selatan 23 Juli lalu, muncul soal mereka akan komit bertemu pemimpin Iran, Syria, Kuba, dan Korea Utara tanpa prakondisi apapun dalam setahun pemerintahan jika kandidat terpilih. Itu pertanyaan tricky, terkait fakta keempat negara tersebut adalah musuh Amrik, utamanya era George Walker Bush. Obama, seperti biasa tampil dengan kalimat inspirasional, idealis dan penuh cinta menegaskan siap bertemu dengan empat pemimpin asing yang selama ini, akibat propaganda Bush, laksana monster dalam mimpi publik Amrik.
Sebaliknya Hillary bilang, nanti-nanti dulu: Sebelum dirinya bertemu, baiknya kirim utusan khusus dulu, test the water. Ia kuatir meeting malah jadi propaganda para rezim musuh AS tadi. Bagi publik dan media AS, jawaban Obama cermin keawaman, innocent, menjurus naïf.
Entah disengaja atau tidak, dalam sorotan teve dan angle foto yang diambil fotografer dalam setiap debat-kandidat, di mana Hillary dan Obama pasti berdekatan atau berdiri bersebelahan, dua kontras pasti muncul. Yang satu tergambar sebagai ibu tua yang berdandan dan ber make-up menor, sedangkan satu lagi bagaikan anak anak kelas 3 SMA atau kuliah semester satu. Padahal faktanya, Hillary belum lah tua-tua amat dan juga tak berpenampilan seronok, dan Obama sendiri sudah 46 tahun. Tapi, media memang paling suka bermain dengan image, dan melakukan pengontrasan yang paling ekstrem. rpohan@jurnas.com
0 Responses to “INNOCENT”