SEJARAH baru Negeri Paman Sam dimulai. Partai Demokrat resmi menetapkan Barack Obama sebagai capres 2009. Inilah kali pertama Demokrat atau Amrik keseluruhan, resmi memiliki capres kulit hitam.
Partai Demokrat adalah pelopor perubahan itu. Amerika atau bangsa multi ras ini telah berhasil mengatasi beban sejarah, keluar dari trauma diskriminasi terhadap non kulit putih.
Di masa lampau, negeri yang sudah berabad-abad merayakan kebebasan ini, menjalani hari-harinya dengan sejarah pahit diskriminasi dan perbudakan. Kulit hitam didiskriminasi, dihambat akses, kesempatan dan haknya, baik dalam politik, pendidikan, lapangan kerja, maupun pergaulan sosial. Untuk mempunyai hak pilih yang sama bagi seluruh warga negaranya saja, Amrik perlu beratus-ratus tahun memecahkannya. Blacks identik dengan kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, kekumuhan. Kerap pula disandingkan dengan symbol yang jauh dari modernisasi, ketakpastian, kemarjinalan.
Dulu, karena akses politik, ekonomi dan sosialnya dihambat, Blacks hanya bisa berekspresi dan salurkan bakat di bidang seni suara dan olah raga belaka. Kemampuan dan talenta itu memberikan peluang mereka menikmati kekayaan materi, bepergian bebas ke negeri-negeri mana pun disukai. Talenta itu pula yang mengeluarkan mereka dari pekerjaan kasar sebagai pembantu, kuli angkut, dan bahkan perbudakan.
Di masa lampau, jika banyak atlet dan penyanyi kulit hitam merajai Negeri Paman Sam, itu diartikan bahwa bakat dan kemampuan mereka hanya di situ saja. Itu jelas sebuah kenaifan. Segelintir orang memeliharanya untuk melanggengkan mitos kuno tersebut. Kini siapa pun tahu, Amrik zaman dulu tak luput dari kedunguan, kekilafan, kepicikan dan salah kaprah. Tak ada orang yang ditakdirkan jadi budak apalagi suatu bangsa disempitkan dengan talenta terbatas belaka. Sebab, jika kesempatan dibuka bebas di di bidang pendidikan, universitas, bisnis dan politik, putera-puteri terbaik Blacks pasti muncul di lapangan prestise itu. Dominasi kultur White telah menyubordinasikan ras-ras lain yang ada, Hispanic, Asia dan kulit hitam.
Karena itu, kemenangan Obama memenangi nominee capres Demokrat mengandung banyak makna penting. Pertama, pengertian minoritas dimarginalkan, seketika sirna. Orang tak perlu lagi mempermasalahkan dirinya atau orang-orang lain berdasarkan warna kulit, latar belakang bangsa atau etnis dan fakta-fakta primordial lainnya. Kedua, American Dream, orang dari suku apa aja memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi terbaik di lapangan dan sektor apa saja. Seorang anak atau siapa pun disilakan mengejar mimpi sekaligus merealisasikannya dengan kerja keras, ketekunan, disiplin dan apa saja kesiapan lainnya yang rasional.
Kamis malam waktu Amerika atau Jumat siang Indonesia, Obama menyampaikan pidato penerimaannya dicapreskan oleh Partai Demokrat. Retorika nya nyaris tanpa cela. Mereka yang berada di stadion maupun seluruh warga Amerika yang duduk setia menyaksikan pidato bersejarah ini tahu Obama adalah sang fenomenal. Ia seorang yang berani, meyakinkan dan tanpa tedeng aling-aling. Sekitar 75 ribu orang di stadion bergemuruh menyambut dan meneriakkan namanya. Mereka tidak sabar supaya pemilu tidak harus menunggu 4 November, sebab itu terlalu lama untuk memulai perubahan. Publik juga tak sabar mau cepat-cepat memanggilnya dengan sebutan: Mr President!
Di stadion terbuka tempat konvensi Demokrat berlangsung, semua yang tampil di podium silih berganti menyerukan nama Obama. Dari mulai Sheryil Crow, Stevie Wonder, Al Gore dan seterusnya. Sejuta alasan kenapa Amrik harus dipimpin Obama. Sejuta alasan pula perubahan harus dilakukan sekarang. Keputusan Demokrat selenggarakan konvensi nasional empat tahunan ini di tempat terbuka, sebuah pertanda optimistik. Dulu John F Kennedy sukses melakukannya, dan lingkar dalam Demokrat ingin Obama bisa mengulang sukses Kennedy tadi.
Sebelum pidato Obama, cawapres Joseph Biden optimistis Gedung Putih bakal diisi Obama dan dirinya sendiri siap mengawal dan menjadi pendamping Obama. Harapan dan optimisme memang sangat penting.
Ramadhan Pohan
Dimuat di Jurnal Nasioanal, Sabtu 30 Agustus 2008
0 Responses to “Obama”