Kamitua

MALAM itu kami berkunjung ke sebuah desa yang cukup jauh dari alun-alun Ponorogo. Dari pinggir jalan raya, kita perlu 20 menit sebelum tiba di sana, dan terlebih dahulu kita harus melalui jalanan yang belum diaspal sama sekali. Melewati jalanan tanah yang kalau diguyur hujan pasti sangat licin. Pada bagian tertentu menuju dusun tersebut, lingkungan sekitar gelap tanpa penerangan listrik.

Di dusun yang jauh dari semarak pembangunan, kondisinya memang masih terbelakang. Umumnya mereka bertani. Banyak yang buruh tani. Tingkat pendidikan kebanyakan masih rendah. Tetapi semangat hidup dan membangun masyarakat ini luar biasa tinggi. Kendala di sana-sini, tetapi tetap dengan spirit optimisme di mana-mana.

Seorang guru SD di tempat itu tiap hari berangkat jalan kaki jam 3 dini hari menuju lokasinya mengajar. Ia harus berjalan jauh dan berdisiplin bisa tiba di sekolah setengah jam sebelum pelajaran dimulai. Masa setengah jam digunakannya untuk mengganti pakaian, membersihkan badan, sehingga fresh ketika mengajar. Ketika bersalaman, saya merasakan jemari dan telapak tangannya begitu kokoh dan tajam seperti karang. Namun hati dan tutur katanya begitu lembut dan bijaksana. Dan ketika dia berbicara tentang para muridnya, nyata sekali nada cinta, kepedulian, dan ketulusan Pak Guru ini. Saya menaruh respek tinggi padanya.

Dia mengatakan dirinya masih lebih baik dan beruntung dibandingkan para muridnya yang malah belasan kilometer berjalan kaki, tiap hari. Para murid datang dari tiga kota berbeda, karena lokasinya di perbatasan. Mereka adalah murid yang perekonomiannya bawah, miskin, dan serbakekurangan.

“Adanya BOS dari pemerintah, sangat membantu sekolah kami dan para siswa,” kata Pak Guru pada saya.

Pak Guru optimistis, selalu akan ada hari baik bagi dirinya, para siswa dan sekolah itu sendiri. Ia percaya kehidupan di dusun tersebut bakal lebih baik lagi di masa depan. Ia begitu mengagumi sumber daya manusia di dusun itu.

“Banyak bekas murid saya, keluaran sekolah kami yang sangat miskin dan sederhana ini mencetak atlet-atlet nasional. Nanti akan tetap banyak, lebih banyak lagi,” katanya, dalam suara bariton, meyakinkan.

Tetapi dari semua pria yang duduk bersama kami, ada seorang lelaki separuh baya yang ternyata pemimpin di komunitas dusun ini. Saya tidak tahu namanya dan memang tak ada yang menyapanya dengan panggilan nama kecil atau nama lengkapnya kecuali posisi atau jabatannya sebagai tokoh penting dusun. Orang-orang menyebutnya dengan “Kamitua”. Laksana tetua sekaligus pemimpin dusun, ia yang paling tahu kondisi riil masyarakat sekitar itu. Ia menjadi jubir. Ia pula yang mendapat kepercayaan untuk berkata, berbuat, dan bertindak apa saja demi dan atas nama kepentingan masyarakat dan dusunnya.

Penderitaan rakyat di dusun itu, Kamitualah yang paling merasakan sedihnya. Bukan hanya itu, Kamitua juga mencari jalan keluar terhadap semua persoalan di dusun tersebut. Entah jalanan yang rusak dan harus diperbaiki. Perairan yang bermasalah. Panen yang tak memuaskan. Atau setiap keluhan persoalan hidup penduduk miskin di area itu. Kamitua selalu hadir di antara rakyatnya. Kepemimpinannya jelas dan begitu terasakan. Tutur katanya memang pelan dan lambat, tetapi bagi yang mendengar, itu laksana aba-aba. Tak ada yang berusaha mencoba menawar atau bernego terhadap sesuatu yang sudah diputuskannya.

Karena itu, tak heran, jika setiap kalimatnya selalu dicermati masyarakat dusun itu. Ketika Kamitua mengatakan “iya” maka semua mengikutinya dengan “iya” juga. Masyarakat dusun itu selalu menunggu komandonya. Sekali komando diberikan, seketika semua yang ada di sekitarnya langsung menurutkan dan melaksanakannya.

“Saya ingin masyarakat di sini sejahtera,” katanya pelan, seperti berbisik.

Yang mendengar paham bahwa Kamitua sedang merencanakan sesuatu, atau bahkan sudah memutuskannya.

Ramadhan Pohan

Dimuat di Jurnal Nasional, Sabtu 3 Januari 2009

1 Response to “Kamitua”


  1. 1 mr.bambang January 22, 2009 at 2:03 pm

    Dear Bung Ramadhan Pohan, itu daerah persisnya mana ya? Saya juga berasal dari Ponorogo. hehehhe


Leave a Reply




Recent Comments

joey on All moments are precious
mr.bambang on Kamitua
kukuh suharwiyono on Israel
harto on Kopi-Kopi
Senda Irawan on Dikotomi

 

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031