Uzur

BERJALAN mengitari perkampungan Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Ponorogo dan Magetan, nyaris tak ada pepohonan yang tidak ditindas gambar-gambar caleg. Jika bisa berbicara, mungkin pohon-pohon itu menjerit kesakitan dan berteriak: Tolong, jangan sakiti tubuhku! Paku-paku menghunjam pasti, pepohonan seperti diminta jadi tumbal untuk kepentingan para caleg. Tetapi para caleg tidak perduli. Di benak mereka hanya ada satu frasa: Menang dengan cara apa pun, tak perduli jika harus menabrak etika dan estetika.

Di antara wajah-wajah yang menancap di batang-batang pohon, beberapa tampak tua sekali. Bahkan sudah terlihat uzur. Ada yang usianya ditaksir hampir 70 tahun. Suara di sebelah saya bertanya, apa lagi yang dicari oleh Pak Tua di penghujung usia senja nya. Seolah-olah politik jadi harga mati dan segalanya.
Boleh jadi, ada beberapa kemungkinan melatarinya.
Pertama, panggilan jiwa. Pak Tua merasa politik adalah ibadah yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Panggilan untuk menyelamatkan masyarakat. Memperjuangkan kemaslahatan umat. Mau usia 20-an atau 70-an, atau bila perlu 80-an, monggo. Panggilan jiwa tak bisa ditawar-tawar. Itu sesuatu idealisme yang mestinya dimiliki banyak orang. Jadi, tak perlu ada pembatasan apapun. Bahwa, panggilan jiwa itu baru muncul di usianya yang kepala 7 atau kepala 8, itu persoalan teknis dan momentum saja. Mungkin sama dengan mereka yang terlambat menikah, ketika usia sudah merangkak senja, baru tergerak hatinya ingin menikah dan memiliki keturunan. Panggilan dan gerak hati, tak ada yang tahu. Laksana cinta yang tak bisa dicegah. Amboi…
Kedua, menjajal peluang. Pak Tua berasumsi peluang semua caleg sama saja. Penentuan kemenangan Pilegs 9 April berdasarkan suara terbanyak membuka kesempatan yang terbuka bagi siapa saja. Pak Tua meyakini sukses politiknya bakal tercapai di penghujung usia senjanya, setelah selama ini berkali-kali gagal mencapai ambisi politik. Pepatah yang mengisyaratkan makin tua makin jadi, makin tua makin berminyak, menguatkan alasan mereka maju. Bahwa antara usia tua dan pengalaman belum tentu berkorelasi, para Pak Tua ingin menarik kesan pertama konstituen, seolah tua identik dengan pengalaman. Juga wisdom.
Ketiga, mengisi waktu luang. Tatkala anak sudah besar-besar dan berumahtangga semua, Pak Tua merasa kesepian dan memerlukan kegiatan yang bisa membuatnya aktif. Menjadi caleg atau politisi adalah pilihan yang nyaman, karena persyaratannya sangat gampang. Syukur-syukur terpilih, pikir mereka. Para Pak Tua seperti ini mungkin merasa berkumpul dan bercengkerama bersama anak cucu kalah mulia dan kalah pamor dibandingkan mengurus rakyat, mengurus negara hmmmm… Inilah karakter manula bergaya selebritis.
Membuka kamus KBBI, uzur berarti halangan, sesuatu yang menyebabkan orang tidak dapat bekerja, dan sebagainya. Uzur bisa pula berarti “berhalangan”, lemah badan karena tua, sakit-sakitan dan berpenyakitan. Merujuk juga pada kondisi seseorang yang sudah sangat tua, rusak.
Tetapi rumusan KBBI tersebut sudah pasti akan ditolak mentah-mentah oleh para caleg manula. Mereka menolak dikatakan uzur. Mereka menganggap diri masih mampu berjalan jauh, bepergian ke mana-mana, mendatangi konstituen ke pelosok-pelosok. Benarkah? Wallahualam. Pasalnya, kata teman tadi, kemana-mana pergi Pak Tua selalu membawa minyak angin. Ia merasa tak perlu punya Tim, kecuali mengandalkan tetangga dan saudaranya untuk disuruh-suruh menyebarkan selebaran kampanyenya.
Apa lagi yang kau cari, Pak Tua?

Ramadhan Pohan

Dimuat di Jurnal Nasional, Selasa 24 Maret 2009

0 Responses to “Uzur”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




Recent Comments

joey on All moments are precious
mr.bambang on Kamitua
kukuh suharwiyono on Israel
harto on Kopi-Kopi
Senda Irawan on Dikotomi

 

April 2009
M T W T F S S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930